Indonesia memasuki babak baru pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Dalam semangat Asta Cita—delapan tekad besar menuju Indonesia Emas—pemerintah berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang agresif dan inklusif, memperkuat ketahanan nasional, serta mempercepat pemerataan pembangunan dari desa hingga kota, dari wilayah perbatasan hingga pusat pertumbuhan baru.
Di tengah transformasi besar ini, peran insinyur menjadi nadi penting yang tidak bisa ditunda, apalagi dinegosiasikan.
Sebagaimana ditekankan dalam Asta Cita: membangun Indonesia dari pinggiran, mewujudkan swasembada pangan dan energi, merevitalisasi industri nasional, dan menumbuhkan ekonomi berbasis riset dan inovasi—semuanya membutuhkan kehadiran para insinyur.
Insinyur adalah arsitek pembangunan, pelaksana solusi, dan penjaga mutu infrastruktur, energi, teknologi, dan lingkungan hidup. Undang-Undang No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran tidak hanya menempatkan insinyur sebagai profesi, tetapi sebagai agen perubahan yang bertanggung jawab membangun nilai tambah dan daya saing bangsa secara berkelanjutan.
Dalam konteks inilah, kami mengajak seluruh Ketua Pengurus Wilayah dan Cabang Persatuan Insinyur Indonesia untuk:
Melakukan identifikasi 10 (sepuluh) permasalahan utama di wilayah/cabang masing-masing, yang:
- relevan dengan peran dan mandat keinsinyuran;
- dapat diselesaikan melalui pendekatan teknologi tepat guna, rekayasa infrastruktur, hilirisasi, digitalisasi, atau pengelolaan sumber daya lokal;
- memiliki potensi menjadi proyek percontohan atau basis kolaborasi lintas sektor.
Menyampaikan laporan tersebut paling lambat 15 Agustus 2025, agar menjadi bahan dalam menyusun Peta Permasalahan Wilayah, serta strategi intervensi keinsinyuran yang sejalan dengan agenda pembangunan nasional dan Asta Cita.
Langkah ini adalah panggilan sejarah. Sebagai insinyur yang berada langsung di lapangan, Anda semua mengenal betul denyut persoalan di daerah: jalan rusak yang memutus akses, sistem irigasi yang tak memadai, potensi energi terbarukan yang belum dimanfaatkan, atau keterbatasan digitalisasi layanan publik.
Kita bukan hanya pencatat masalah. Kita adalah bagian dari solusi. Saatnya kita menyingsingkan lengan baju, bahu-membahu membangun dari bawah, menghidupkan semangat Asta Cita melalui rekayasa nyata yang berdampak.
Dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan pengabdian, mari kita pastikan bahwa suara dan karya insinyur terdengar dari pelosok negeri hingga pusat pengambilan kebijakan.
Indonesia membutuhkan kita. Dan kita siap.
Hormat kami,
Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie, MBA., IPU
Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia





0 Comments