Sejarah PII

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) didirikan tanggal 23 Mei 1952 di Kota Bandung oleh Djoeanda Kartawidjaja dan Roosseno Soerjohadikoesoemo atas prakarsa Presiden Soekarno. Jumlah anggota PII pada saat didirikan adalah 75 orang.

Pendirian PII ditujukan untuk mendukung proses pembangunan Indonesia pasca-kemerdekaan. Saat itu, para insinyur memiliki peran strategis dalam pembangunan infrastruktur dan pengembangan teknologi yang dibutuhkan oleh negara yang baru merdeka.

Profil Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja

Kelahiran Tasikmalaya, alumni Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS). Pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia tahun 1957-1959.

Sumbangan terbesarnya adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI, atau dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut UNCLOS.

Profil Prof. Dr. Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo

Kelahiran Madiun, alumni Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS). Mengawali karier dengan berwiraswasta di Bandung dengan mendirikan Biro Insinyur Roosseno dan Soekarno (Presiden pertama RI) di Jalan Banceuy pada tahun 1933.

Merupakan profesor pribumi pertama di jurusan Teknik Sipil ITB pada tahun 1948 dan dikenal sebagai Bapak Beton Indonesia. Beliau juga tercatat sebagai salah seorang pendiri Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. id

Pendiri PII